Dari : Situs Alfi

Senin, 19 Januari 2015

Pelajaran Sejarah Kelas X


  

Teori Tentang Masuk dan Berkembangnya Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia

Teori tentang masuk dan berkembangnya kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia didasarkan pada hipotesis-hipotesis yang dikemukakan oleh beberapa ahli tentang proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Hipotesis-hipotesis tersebutdibagi ke dalam dua kelompok besar yaitu teori kolonisasi dan teori arus balik.

1. Teori kolonisasi

 Teori ini berusaha menjelaskan proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaanHindu-Buddha di Indonesia dengan menekankan pada peran aktif dari orang-orang India dalammenyebarkan pengaruhnya di Indonesia. Berdasarkan teori ini, orang Indonesia sendiri sangat pasif, artinya mereka hanya menjadi objek penerima pengaruh kebudayaan India tersebut. Teorikolonisasi ini terbagi dalam beberapa hipotesis, yaitu sebagai berikut.

a. Hipotesis Waisya 

 Menurut

 NJ. Krom,

 proses terjadinya hubungan antara India dan Indonesia karena adanyahubungan perdagangan, sehingga orang-orang India yang datang ke Indonesia sebagian besar adalah para pedagang. Perdagangan yang terjadi pada saat itu menggunakan jalur laut danteknologi perkapalan yang masih banyak tergantung pada angin musim. Hal ini mengakibatkandalam proses tersebut, para pedagang India harus menetap dalam kurun waktu tertentu sampaidatangnya angin musim yang memungkinkan mereka untuk melanjutkan perjalanan. Selamamereka menetap, memungkinkan terjadinya perkawinan dengan perempuan-perempuan pribumi.Mulai dari sini pengaruh kebudayaan India menyebar dan menyerap dalam kehidupanmasyarakat Indonesia. Pendapat Krom tersebut didasarkan penelaahan dia pada proses Islamisasidi Indonesia yang dilakukan oleh para pedagang Gujarat. Bukan hal yang mustahil, prosesmasuknya budaya Hindu-Buddha di Indonesia dilakukan dengan cara yang sama. Namun, teori ini memiliki kelemahan, yaitu para pedagang yang termasuk dalam kasta Waisyatidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa yang umumnya hanya dikuasai oleh kastaBrahmana. Namun bila menilik peninggalan prasasti yang dikeluarkan oleh negara-negarakerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, sebagian besar menggunakan bahasa Sanskerta dan berhuruf Pallawa.Dengan demikian, timbul pertanyaan: Mungkinkah para pedagang India mampu membawa pengaruh kebudayaan yang sangat tinggi ke Indonesia, sedangkan di daerahnya sendirikebudayaan tersebut hanya milik kaum Brahmana? Selain itu, terdapat kelemahan lain dalamhipotesis ini yaitu dengan melihat peta persebaran kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesiayang lebih banyak berada di pedalaman. Namun apabila pengaruh tersebut dibawa oleh para


 pedagang India, tentunya pusat kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha akan lebih banyak berada didaerah pesisir pantai.

b. Hipotesis Ksatria 

 Ada tiga ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai proses penyebaran agama dankebudayaan Hindu-Buddha dilakukan oleh golongan ksatria, yaitu sebagai berikut.

1) C.C Berg

 C.C. Berg mengemukakan bahwa golongan yang turut menyebarkan kebudayaan Hindu-Buddhadi Indonesia adalah para petualang yang sebagian besar berasal dari golongan Ksatria. ParaKsatria ini ada yang terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Bantuanyang diberikan oleh para Ksatria ini sedikit banyak membantu kemenangan bagi salah satukelompok atau suku yang bertikai. Sebagai hadiah atas kemenangan itu, ada di antara merekayang dinikahkan dengan salah seorang putri dari kepala suku yang dibantunya. Dari perkawinannya ini memudahkan bagi para Kesatrian untuk menyebarkan tradisi Hindu Buddhakepada keluarga yang dinikahinya tadi. Berkembanglah tradisi Hindu-Buddha dalam masyarakatIndonesia.

2) Mookerji

 Dia mengatakan bahwa golongan Ksatria (tentara) dari India yang membawa pengaruhkebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia. Para Ksatria ini kemudian membangun koloni-koloniyang akhirnya berkembang menjadi sebuah kerajaan. Para koloni ini kemudian mengadakanhubungan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan di India dan mendatangkan para seniman yang berasal dari India untuk membangun candi-candi di Indonesia.

3) J.L Moens

 Dia mencoba menghubungkan proses terbentuknya kerajaan-kerajaan di Indonesia pada awalabad ke-5 dengan situasi yang terjadi di India pada abad yang sama. Perlu diketahui bahwasekitar abad ke-5, banyak kerajaan-kerajaan di India Selatan yang mengalami kehancuran. Adadi antara para keluarga kerajaan tersebut, yaitu para Ksatrianya yang melarikan diri ke Indonesia.Mereka ini selanjutnya mendirikan kerajaan di kepulauan Nusantara. Kekuatan hipotesis Ksatriaterletak pada kenyataan bahwa semangat berpetualang pada saat itu umumnya dimiliki oleh paraKsatria (keluarga kerajaan).Sementara itu, kelemahan hipotesis yang dikemukakan oleh Berg, Moens, dan Mookerji yangmenekankan pada peran para Ksatria India dalam proses masuknya kebudayaan India keIndonesia terletak pada hal-hal sebagai berikut, yaitu:

 

1) Para Ksatria tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa;2) Apabila daerah Indonesia pernah menjadi daerah taklukkan kerajaan-kerajaan India, tentunyaada bukti prasasti yang menggambarkan penaklukkan tersebut. Akan tetapi, baik di Indiamaupun Indonesia tidak ditemukan prasasti semacam itu. Adapun prasasti Tanjore yangmenceritakan tentang penaklukkan kerajaan Sriwijaya oleh salah satu kerajaan Cola di India,tidak dapat dipakai sebagai bukti yang memperkuat hipotesis ini. Hal ini disebabkan penaklukkan tersebut terjadi pada abad ke-11 sedangkan bukti-bukti yang diperlukan harusmenunjukkan pada kurun waktu yang lebih awal.

c. Hipotesis Brahmana 

 Hipotesis ini menyatakan bahwa tradisi India yang menyebar ke Indonesia dibawa oleh golonganBrahmana. Pendapat ini dikemukan oleh

 JC.Van Leur 

. Berdasarkan pada pengamatannyaterhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia,terutama pada prasasti-prasasti yang menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa, makasangat jelas itu adalah pengaruh Brahmana. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa kaumBrahmana-lah yang menguasai bahasa dan huruf itu, sehingga pantas jika mereka yangmemegang peranan penting dalam proses penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha diIndonesia.Akan tetapi, bagaimana mungkin para Brahmana bisa sampai ke Indonesia yang terpisahkandengan India oleh lautan. Dalam tradisi agama Hindu terdapat pantangan bagi kaum Brahmanauntuk menyeberangi lautan, sehingga hal ini menjadi kelemahan hipotesis ini.

2. Teori Arus Balik 

 Pendapat yang dikemukakan tersebut di atas mendapat kritikan dari

 F.D.K Bosch

. Adapunkritikan yang dikemukakannya adalah sebagai berikut.a. Berdasarkan pada peninggalan-peninggalan yang ada, ternyata teori kolonisasi tidak mempunyai bukti yang kuat. Untuk hipotesa Waisya, tidak terbukti bahwa kerajaan awal diIndonesia yang bercorak Hindu-Buddha ditemukan di pesisir pantai, melainkan terletak di pedalaman. Kritikan untuk hipotesaKsatria, ternyata tidak ada jaya prasasti yang menyatakan daerah atau kerajaan yang ada diIndonesia pernah ditaklukkan atau dikuasai oleh para Ksatria dari India.

 

 b. Bila ada perkawinan antara golongan Ksatria dengan putri pribumi dari Indonesia, seharusnyaada keturunan dari mereka yang ditemukan di Indonesia. Pada kenyataannya, hal itu tidak ditemukan.c. Dilihat dari hasil karya seni, terdapat perbedaan pembangunan antara candi-candi yangdibangun di Indonesia dengan candi-candi yang dibangun di India.d. Kritikan yang lain adalah dilihat dari sudut bahasa. Bahasa Sanskerta hanya dikuasai oleh paraBrahmana, tetapi kenapa bahasa yang digunakan oleh masyarakat pada waktu itu adalah bahasayang digunakan oleh kebanyakan orang India.Selanjutnya, F.D.K Bosch punya pendapat lain. Teori yang dikemukakan oleh Bosch ini dikenaldengan teori

 Arus Balik.

Menurut teori ini, yang pertama kali datang ke Indonesia adalah merekayang memiliki semangat untuk menyebarkan Hindu-Buddha, yaitu para intelektual yang ikutmenumpangkapal-kapal dagang. Setelah tiba di Indonesia, mereka menyebarkan ajarannya. Karena pengaruhnya itu, ada di antara tokoh masyarakat yang tertarik untuk mengikuti ajarannyatersebut. Pada perkembangan selanjutnya banyak orang Indonesia sendiri yang pergi ke Indiauntuk berkunjung dan belajar agama Hindu-Buddha di India. Sekembalinya di Indonesia,merekalah yang mengajarkannya kepada masyarakat Indonesia yang lain. Bukti-bukti dari pendapat di atas adalah adanya prasasti Nalanda yang menyebutkan bahwa

 Balaputradewa

(rajaSriwijaya) telah meminta kepada raja di India untuk membangun wihara di Nalanda sebagaitempat untuk menimba ilmu para tokoh dari Sriwijaya. Permintaan raja Sriwijaya itu ternyatadikabulkan. Dengan demikian, setelah para tokoh atau pelajar itu menuntut ilmu di sana, mereka balik ke Indonesia. Merekalah yang selanjutnya menyebarkan pengaruh Hindu-Buddha di


Tidak ada komentar:

Posting Komentar